Peran ARA dan ARB dalam Mengendalikan Volatilitas Pasar Modal Indonesia
Tasikmalaya, GIBEI UNPER - Pasar modal Indonesia adalah bagian penting dari sistem keuangan nasional, namun seperti pasar modal di negara lain, pasar ini tidak terlepas dari volatilitas harga saham. Untuk mengendalikan fluktuasi harga yang ekstrem, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan mekanisme batasan pergerakan harga saham, yang dikenal dengan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).
Pada artikel ini, kita akan membahas secara lengkap:
-
Apa itu ARA dan ARB
-
Tujuan penerapan ARA dan ARB
-
Contoh nyata saham yang terkena ARA dan ARB
-
Dampak dan kontroversi dari kebijakan ini
📌 Apa Itu ARA dan ARB?
ARA (Auto Rejection Atas) dan ARB (Auto Rejection Bawah) adalah mekanisme batas otomatis yang diterapkan oleh BEI untuk membatasi kenaikan dan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan.
🎯 Auto Rejection Atas (ARA)
ARA terjadi ketika harga saham naik melebihi batas maksimum harian yang telah ditentukan oleh BEI. Ketika ini terjadi, sistem akan otomatis menolak semua order beli yang lebih tinggi dari batas ARA.
Contoh batas ARA (per Mei 2025):
| Harga Saham (Rp) | Batas ARA |
|---|---|
| < 200 | 35% |
| 200 – 5.000 | 25% |
| > 5.000 | 20% |
🔻 Auto Rejection Bawah (ARB)
ARB terjadi ketika harga saham turun melebihi batas minimum harian. Dalam situasi ini, sistem akan otomatis menolak order jual di bawah harga ARB.
Contoh batas ARB:
-
Sama seperti ARA, tetapi arah pergerakan harga turun.
🎯 Tujuan Utama ARA dan ARB
-
Mengendalikan Volatilitas Ekstrem: Mencegah lonjakan atau penurunan harga yang terlalu cepat akibat aksi spekulatif atau panic selling.
-
Memberi Waktu kepada Investor: Investor dapat menganalisis informasi yang menyebabkan pergerakan harga ekstrem.
-
Menjaga Kepercayaan Pasar: Stabilitas harga mendorong kepercayaan investor terhadap sistem pasar modal.
📌 Contoh Saham yang Terkena ARA dan ARB
✅ Saham yang Terkena ARA
Contoh: Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Pada awal 2023, GOTO sempat mengalami lonjakan tajam setelah pengumuman merger dan efisiensi bisnis. Harga saham naik hingga mencapai batas ARA, misalnya:
-
Hari sebelumnya: Rp 85
-
Hari ARA: Rp 115 (naik 35%, batas ARA untuk saham di bawah Rp 200)
Sistem BEI secara otomatis menolak order beli di atas Rp 115.
❌ Saham yang Terkena ARB
Contoh: Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Ketika sentimen negatif menerpa sektor batu bara atau terjadi penurunan harga komoditas global, saham BUMI bisa mengalami penurunan tajam:
-
Hari sebelumnya: Rp 120
-
Hari ARB: Rp 90 (turun 25%)
Semua order jual di bawah Rp 90 akan otomatis ditolak sistem.
🤔 Dampak ARA dan ARB terhadap Investor
Kelebihan:
-
Mencegah kepanikan dan aksi jual besar-besaran.
-
Melindungi investor ritel dari volatilitas liar.
-
Memberi waktu untuk mencerna berita/isu fundamental.
Kekurangan:
-
Bisa menciptakan false demand (khususnya saat ARA).
-
Dalam kondisi ARB terus-menerus (saham "auto ARB"), investor tidak bisa keluar dari posisi karena tidak ada pembeli.
-
Terbatasnya fleksibilitas pasar bebas.
ARA dan ARB adalah instrumen penting dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia. Meskipun memiliki kelebihan dalam mengendalikan volatilitas, mekanisme ini juga memiliki kelemahan yang harus dipahami oleh investor.
Sebagai investor, penting untuk:
-
Memahami risiko pergerakan harga ekstrem.
-
Tidak hanya mengandalkan momentum ARA/ARB.
-
Melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum membeli atau menjual saham.

Komentar
Posting Komentar