Tasikmalaya, GIBEIUNPER- Banyak orang yang baru mulai investasi saham sering terkecoh antara saham “undervalue” dan saham “murahan”. Padahal, dua istilah ini beda banget maknanya. Sekilas memang sama-sama terlihat “harga rendah”, tapi kalau salah menilai, bisa-bisa yang dikira kesempatan emas malah jadi jebakan batman. Yuk, bahas cara ngebedainnya biar nggak salah langkah di pasar modal.
1. Saham Undervalue = Harga Lagi Diskon, Bukan Jelek
Saham undervalue itu sebenarnya saham bagus yang sedang dijual di bawah nilai wajarnya. Biasanya, penurunan harga ini terjadi karena sentimen pasar jangka pendek, padahal fundamental perusahaannya masih solid. Contoh, laba perusahaan tetap naik, utang terkendali, tapi harga sahamnya turun karena isu sementara. Kalau kamu beli di saat undervalue, potensi keuntungannya bisa besar begitu harga kembali ke nilai wajarnya.
2. Saham Murahan = Murah Karena Memang Kinerjanya Lemah
Berbeda dengan undervalue, saham murahan itu murah karena pantas murah. Biasanya, perusahaan di balik saham ini punya masalah serius seperti rugi terus-menerus, manajemen nggak transparan, atau bisnisnya udah nggak relevan lagi. Harga bisa rendah banget, tapi peluang bangkitnya kecil. Jadi, walau terlihat menggiurkan, saham jenis ini malah bisa bikin boncos kalau dibeli tanpa riset.
3. Lihat dari Fundamental, Bukan Harga per Lembar
Banyak investor pemula salah fokus ke harga nominal saham, misalnya ngira saham Rp200 lebih menarik daripada saham Rp5.000. Padahal yang penting itu valuasi, bukan harga per lembarnya. Gunakan rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) atau Price to Book Value (PBV) untuk menilai apakah saham undervalue atau memang murahan. Saham dengan PBV di bawah 1 misalnya, bisa jadi undervalue kalau fundamentalnya masih bagus.
4. Cek Performa dan Prospek Bisnisnya
Selain angka, kamu juga harus lihat arah bisnisnya. Apakah perusahaannya masih tumbuh, produknya masih dibutuhkan pasar, dan punya inovasi ke depan? Saham undervalue biasanya berasal dari perusahaan dengan prospek cerah tapi sedang “diabaikan” pasar. Sementara saham murahan, seringnya berasal dari perusahaan yang stagnan atau malah menurun tanpa strategi pemulihan jelas.
5. Jangan Terjebak “Harga Diskon” Tanpa Analisis
Ingat, nggak semua yang kelihatan murah itu layak beli. Sama kayak beli barang, diskon besar bukan jaminan kualitas. Bedanya, kalau beli baju salah masih bisa move on, tapi kalau salah beli saham, bisa rugi gede. Jadi, sebelum beli saham “murah”, pastikan kamu tahu alasan di balik harganya turun dan apakah perusahaan itu masih punya masa depan.

Komentar
Posting Komentar