KETIKA FOMO BIKIN BONCOS: RESIKO INVESTASI TANPA MIKIR PANJANG

Tasikmalaya, GIBEIUNPER- Dalam beberapa tahun terakhir, dunia investasi semakin ramai dibicarakan. Banyak orang mulai tertarik setelah melihat tren di media sosial, mendengar cerita teman yang berhasil cuan, atau merasa takut ketinggalan peluang. Fenomena inilah yang sering disebut FOMO (Fear of Missing Out). Sayangnya, keputusan investasi yang didorong oleh FOMO justru berpotensi membawa lebih banyak risiko daripada manfaat.

Salah satu risiko paling umum adalah membeli aset di saat harganya sudah berada di puncak. Karena terbawa euforia, seseorang cenderung masuk ke pasar pada waktu yang kurang tepat. Ketika harga kembali turun, mereka panik dan akhirnya menjual dalam kondisi rugi. Pola seperti ini sering terjadi hanya karena keputusan awal tidak berdasarkan analisis, melainkan semata-mata ikut arus.

Selain timing yang keliru, FOMO juga membuat banyak orang mengabaikan proses riset. Mereka merasa cukup dengan informasi dari teman, konten kreator, atau tren yang sedang ramai. Padahal, tanpa memahami fundamental aset yang dibeli, risiko kerugiannya jauh lebih besar. Investasi tanpa pengetahuan yang memadai pada dasarnya lebih dekat dengan spekulasi.

Dampak lainnya adalah penggunaan dana yang tidak tepat. Beberapa individu bahkan sampai mengalokasikan uang yang sebetulnya dialokasikan untuk kebutuhan penting, seperti dana darurat atau biaya harian. Ketika pasar bergerak tidak sesuai harapan, situasi ini bisa mempengaruhi kondisi finansial pribadi dan menambah tekanan mental.

Aspek psikologis juga tidak boleh diabaikan. FOMO sering membuat seseorang terlalu sering memantau pergerakan harga, mudah panik, atau merasa gelisah saat pasar mengalami penurunan. Alih-alih membawa ketenangan dalam merencanakan masa depan, investasi menjadi sumber stres yang tidak perlu.

Pada akhirnya, setiap keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan, dan toleransi risiko masing-masing individu. Mengikuti tren bukan masalah, selama tetap diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dan pertimbangan yang matang. Dengan begitu, investasi tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi benar-benar menjadi strategi untuk mencapai tujuan finansial yang lebih baik.

Komentar